NasionalStyle

Filosofi di Balik Kereta Kencana Ki Jaga Rasa Pembawa Bendera Pusaka

Sudah ketiga kalinya kereta kencana Ki Jaga Rasa ini membawa bendera pusaka pada saat perayaan upacara HUT RI. Ternyata kereta kencana ini, dipilih langsung oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi).

Melansir laman Antara, kereta kencana yang awalnya berada di Kabupaten Subang dan dimiliki oleh anggota DPR RI Dedi Mulyadi. Ki Jaga Rasa kembali dipercaya untuk membawa bendera sang saka merah putih pada peringatan HUT ke-78 RI di istana negara, Jakarta (17/8). Ternyata ada filosofi di balik kereta kencana ini.

Menurut sang pemilik nama Ki Jaga Rasa ini tak lepas dari dasar sejarah kerajaan Sunda dan tentunya seperti digambarkan pada kereta kencana miliknya itu. Kereta kencana Ki Jaga Rasa tersebut diimplementasikan layaknya pemimpin kerajaan sunda pada kala itu yang memiliki kualifikasi terbaik sebagai pemimpin dari rakyatnya.

“Kita tidak perdebatkan sejarah Tataran Sunda, tetapi yang kita ingin bangun ialah spirit masa lalu menjadi realitas masa depan, jadi ini yang penting. Kita tahu di tataran sunda ini pemimpinnya banyak, nama-namanya banyak,” ujar Dedi.

“Tetapi pemimpin itu yang memiliki kualifikasi terbaik dalam hidupnya pasti dikasih gelar Prabu Siliwangi. Artinya, seorang raja yang memiliki spirit untuk membangun kemakmuran bagi rakyaknya, membangun cinta kasih, mambangun setiap hak-hak dia dibikin menjadi setara, sehingga tidak ada lagi kualifikasi strata manusia secara sosial. Maka kerajaannya Pajajaran yang artinya dibangun sama sajajar satu barisan,” katanya.

Arti dari Ki Jaga Rasa itu, kata Dedi, menggambarkan bahwa pemimpin selalu menjaga perasaan kepada rakyatnya itu sendiri. Ia menilai bahwa pemimpin harus dapat menjaga rakyatnya dengan penuh cinta kasih.

“Saya beri nama Ki Jaga Rasa sebagai simbol berarti seorang pemimpin yang selalu menjaga rakyatnya. Makanya dinamakan Ki Jaga Rasa karena menjaga perasaan rakyatnya, jadi memiliki pemimpin itu menjaga rasa penuh cinta,” kata Dedi.

“Karena penuh rasa dan penuh cinta memiliki kepekaan dan empati sosial yang tinggi, maka Ki Jaga Rasa itu untuk diberikan peringatan bahwa kita dulu punya seorang pemimpin yang memiliki kualifikasi seperti ini, seperti selalu menjaga perasaan masyarakatnya, tidak pernah tidur di istana, selalu berkeliling menemui warga,” pungkas Dedi.

Tinggalkan Balasan